Tanaman Rami Sebagai Bahan Pengganti Kapas

Muhammad Alief Nafi, 13 November 2021 - 10.31 WIB
Tanaman Rami (Foto: Rumah Kapas)
Tanaman Rami (Foto: Rumah Kapas)

Tidak dapat dipungkiri bahwa keterikatan kita akan kapas, sangatlah erat dalam kehidupan sehari hari. Mulai dari bahan pakaian hingga peralatan kecantikan seperti kapas wajah. Hal ini dapat dibuktikan dengan daya serap kapas dunia berkisar 29.7% dari total volume produksi serat tekstil dunia yang mencapai 89.4 juta ton. Diperkirakan bahwa kecenderungan global [pertumbuhan penduduk, pertumbuhan kemakmuran dan perubahan iklim] serta pasokan kapas yang terbatas sebagai akibat peningkatan konsumsi serat secara global akan menyebabkan tingginya permintaan akan serat selulosa (cellulose gap). (Eva Novarini,2015)

Dengan adanya potensi cellulose gap tersebut, bagaimanakah Indonesia dapat ikut perpartisipasi menggambil bagian “kue” Tersebut? Apakah membudayakan kapas di Indonesia adalah solusinya? Kebutuhan kapas nasional dalam beberapa tahun terakhir mencapai 500–700 ribu ton, sementara produksi dalam negeri kurang dari 5 ribu ton (Zikria 2015). Untuk mencukupi kebutuhan industri, Indonesia mengimpor kapas hampir 100% per tahun. Baru sekitar 0.5% saja yang dapat diproduksi secara lokal. Menurut Direktur Tanaman Semusim Direktorat Perkebunan Kementan Nurnowo Paridjo, petani enggan mengembangkan komoditas kapas karena dinilai kurang menguntungkan. Penyebabnya adalah faktor iklim atau agroklimat. Kapas yang merupakan tanaman continental yang membutuhkan iklim kering tetapi masih tersedia air. Sementara Indonesia merupakan negara kepulauan yang curah hujannya tinggi, jadi sulit untuk dikembangkan di Indonesia.

Selain itu, penanaman kapas dengan skala yang besar dapat memberikan dampak negative bagi lingkungan. Menurut The World Count, Untukmemmproduksi 1Kg Kapas, membutuhkan 10.000 liter air. Salah satu dampak yang sudah terlihat, terjadi di Laut Aral yang merupakan danau terbesarno 4 di dunia yang dimana saat ini sudah “menghilang”. Dan penyebab utamanya adalah dari penanaman kapas. Bahkan PBB menyatakan bahwa haltersebut merupakan kerusakan lingkungan yang paling buruk di dunia.

Lalu apakah ada terdapat sumber daya alam Indonesia yang dapat digunakan untuk menggantikan kebutuhan serat selulosa yang juga ramah terhadap lingkungan? Salah satu solusinya adalah Rami. Beberapa tahun belakangan ini, mulai banyak peneliti yang meneliti serat selulosa dari Rami. Rami adalah salah satu serat tumbuhan tertua yang telah digunakan ribuan tahun.Sejak jaman prasejarah rami telah digunakan di Cina, India dan Indonesia. Di Indonesia, tanaman rami terdapat hampir di seluruh daerah di tanah air. Sama halnya dengan serat kapas, komposisi utama penyusun serat rami adalah selulosa (72-97%).

Mengapa Rami? Serat rami sangat tahan lama, putih bersih, dan berkilau. Serat rami mempunyai ketahanan tarik delapan kali dari katun dan tujuh kali dari sutera, tahan terhadap bakteri dan pembusukan, dan tidak berubah pada kenaikan kelembaban hingga 25%, anti infra merah, tidak mudah berkerut, halus, dapat dicampur dengan kapas, rayon, dan polyester serta wool. Daya serap terhadap airnya (moisture regain) terbilang tinggi yaitu 12% sedangkan daya serap kapas hanya 8%. Daya serap yang lebih tinggi ini menjadikan rami lebih mampu menyerap cairan tubuh seperti keringat. Sehingga dengan karakteristik rami tersebut, rami memiliki potensi pengembangan produk yang sangat luas. Output dari rami dapat disesuaikan berdasarkan proses pengolahannya. Berbeda proses, akan menghasilkan tipe serat yang berbeda pula dan akan disesuaikan dengan produk akhir yang akan dibuat.

  • A. Rami untuk tekstil

    Karakteristik serat rami yang lembut dan kuat, dapat menghasilkan produk tekstil yang berkualitas. Sifatnya yang memiliki daya serap tinggi juga mendukung untuk dijadikan pakaian musim panas, sehingga dapat menyerap keringat dengan baik. Kekuatan serat rami dapat dimanfaatkan sebagai bahan sepatu yang kuat dan tahan robek.

  • B. Tekstil teknik

    Rami dengan kekuatan seratnya, dapat digunakan menjadi produk produk tekstil teknik, seperti tali, tambang, tas kanvas, terpal, karpet, dan geotekstil. Untuk produk tekstil teknik, proses yang pengolahan yang dilakukan hanya dilakukan sampai serat panjang yang sedikit kasar.

  • C. Kertas

    Serat batang rami dapat dibuat menjadi berbagai jenis kertas, seperti kertas printing, kertas halus, kertas filter, kardus dan kertas kemasan.

  • D. Bahan Bangunan

    Serat batang rami dapat diolah menjadi bahan bangunnan seperti fiber board, material insulasi, pengganti fiberglass, campuran blok semen dan mortar

  • E. Komposit

    Rami juga berpotensi untuk digunakan sebagai penguat pada komposit dengan matriks resin. 45% kandungan serat rami dapat meningkatkan kekuatan tarik suatu komposit dengan matriks resin poliester hingga 338%

Lalu dengan seluruh potensi yang dimiliki oleh rami, apakah rami sudah ideal untuk dijadikan sector ideal Indonesia terutama dalam mengatasi ketergantungan impor serat? Jawabannya belum. Nyatanya, serat rami saat ini masih cukup mahal dan belum dapat bersaing dengan serat lain yang didapat dari impor. Hal ini terjadi karena dua faktor utama, yaitu jumlah pasokan dan infrastruktur.

Petani rami di Indonesia saat ini sangatlah sedikit dikarnakan sosialisasi potensi rami ini masih banyak belum tersebar. Ketidaktahuan tersebut yang membuat petani masih enggan untuk menanam rami. Hanya beberapa daerah saja yang masih produktif untuk menanam rami dan salah satunya terdapat di Wonosobo yang saat ini “kebanjiran” permintaan untuk ekspor hingga diluar kapasitas produksinya. Saat ini, infrasturktur pengolahan rami juga belum memadai di Indonesia. Untuk mencapai harga yang ekonomis dengan kualitas terbaik, diperlukan mesin produksi modern berskala besar. Saat ini pengolahan hanya dilakukan dengan mesin sederhana bahkan secara konvensional.

Survei Lahan Tanaman Rami
Survei Lahan Tanaman Rami (Foto: Rumah Kapas)

Namun dengan adanya tantangan tantangan tersebut, para penggerak rami Indonesia tidaklah tinggal diam, seluruh usaha sedang diupayakan untuk mengatasi tantangan tersebut. Pada tanggal 8-9 Oktober 2021 lalu, Researcher dari Universitas Airlangga bersama Rumah Kapas, Ijad Farm dan para expertise Rami di indonesia, berkunjung ke Pacet dan Lawang untuk melakukan survei analisa kelayakan lahan berserta membahas potensi dan arahan rami kedepannya. Diharapkan dengan semakin luasnya pergerakan dari rami ini, dapat mendorong Rami untuk menjadi sector strategis Indonesia dalam beberapa tahun kedepan.

Beri Komentar

Nama :
Email :
Komentar :
.
.
.